Tips Merekam Video

8 Tips Merekam Video Menggunakan Kamera DSLR

Kamera DSLR saat ini memiliki kemampuan untuk merekam video high-definition(HD). Fitur yang dimiliki memudahkan pengguna untuk mengubah proses memotret foto dengan merekam video hanya menggunakan sebuah tombol. Menggunakan DSLR, pengguna diberi pilihan lensa beragam yang dapat berguna untuk menciptakan efek tertentu serta resolusi video yang berkualitas. Berikut ini beberapa tips yang perlu diperhatikan saat merekam video dengan menggunakan kamera DSLR:

1. Memahami Format File dan Kualitas Video

Ada banyak file format yang tersedia saat perekaman video melalui kamera DSLR, ini tergantung pada merek dan tipe kamera yang dipakai. Canon DSLR menggunakan variasi format file MOV, Nikon dan Olympus menggunakan format AVI, sedangkan Panasonic dan Sony menggunakan format AVCHD. Meskipun hasilnya memiliki format yang berbeda tapi tidak perlu terlalu khawatir. Saat ini semua video bisa diubah menjadi format yang berbeda saat editing.

Selain format file, kualitas video yang dihasilkan kamera DSLR kadang berbeda juga. DSLR yang bagus bisa merekam sampai full HD ini yang setara dengan resolusi 1080×1920 piksel pada rate 24 sampai 30 fps atau frames per second. DSLR yang murah bisanya hanya menawarkan perekaman video sampai 720HD atau 1280×720 piksel. Meskipun lebih rendah namun ini masih dua kali resolusi format DVD jadi masih layak untuk digunakan.

2. Pengaturan Video: Frame Rate dan Aspect Ratio

Pengaturan video pada kamera diperlukan jika kita ingin membuat tampilan video yang berbeda. Misalnya jika kita ingin agar tampilan video kita seperti tampilan pada film-film bioskop maka frame rate perlu diatur pada 24fps atau 25fps. Frame rate tersebut memang biasanya digunakan untuk film bioskop. Jika kita ingin merekam pada frame rate yang lebih tinggi dengan tujuan untuk menciptakan video slow-motion maka perlu mengatur ulang. Misalnya dengan menggunakan 48 fps atau 60 fps.

3. Pengaturan ISO

ISO menunjukkan tentang seberapa sensitif kamera terhadap cahaya. Mudahnya, semakin tinggi ISO maka gambar akan semakin cerah, sedangkan semakin rendah ISO maka gambar akan semakin gelap. Menggunakan ISO tinggi yaitu lebih besar dari ISO640 dapat digunakan saat perekaman di dalam ruangan tanpa adanya banyak cahaya luar.

Biarkan ISO rendah saat merekam di luar ruangan saat cuaca cerah atau di studio yang menggunakan banyak cahaya lampu. Pengaturan ISO ini sangat berguna saat perekaman. Jika kita menaikkan ISO maka biasanya kita akan melihat noise atau gangguan pada gambar jadi perlu melakukannya dengan hati-hati. Kamera akan merekam terbaik saat berada di range ISO bawah.

4. Mengatur Aperture

Aperture mengendalikan jumlah cahaya yang mencapai sensor gambar. Semakin kecil nilainya maka semakin terbuka aperture nya. Semakin tinggi nilainya maka semakin kecil aperture-nya. Ini bekerja layaknya sebuah pupil pada mata manusia.saat kamera diafragma terbuka maka cahaya akan masu, dan saat sedikit tertutup maka cahaya hanya sedikit yang masuk.

Kita bisa menggunakan aperture kecil seperti f/1.8 untuk membiarkan banyak cahaya masuk ke dalam kamera pada situasi cahaya yang redup. Jika kita melakukan perekaman di luar dengan cahaya yang banyak maka kita bisa mengatur aperture dengan angka yang besar misalnya f/10 sehingga membatasi terlalu banyak cahaya yang masuk ke kamera.

Aperture juga mengontrol kedalaman pemandangan. Untuk mendapatkan latar belakang yang tak fokus maka kita bisa mengatur aperture yang selebar mungkin misalnya f/1.8. Namun jika kita ingin semua yang tertangkap tampak fokus maka perlu aperture yang tertutup seperti f/22.

5. Kecepatan Shutter

Kecepatan shutter menunjukkan seberapa banyak waktu sensor kamera terkena cahaya. Semakin lama shutter terbuka misalnya 1/30 dalam sedetik maka semakin banyak cahaya masuk sehingga pergerakan akan lebih tidak jelas. Sedangkan semakin cepat seperti 1/500 dalam sedetik maka semakin sedikit cahaya akan masuk ke sensor, sehingga kita mampu menghentikan pergerakan.

Jika kita ingin mengatur kecepatan shutter ini maka gunakan aturan umum yaitu: kalikan dua dari frame rate. Jadi misalnya jika kita merekam pada 24 fps maka shutter speednya harus 1/48, jika merekam pada 60fps maka shutter speednya harus 1/120.

Secara teknikal ini tidak banyak berpengaruh. Yang perlu diprioritaskan yaitu pertama aperture, kedua ISO, dan baru kemudian shutter.

6. White Balance dan Temperatur Warna

Sumber cahaya yang berbeda seperti cahaya lampu dan matahari memiliki temperatur yang berbeda pula. White balance memberikan informasi temperatur warna dari cahaya saat proses perekaman. Cobalah cocokkan aturan white balance dengan cahaya saat perekaman. Misalnya jika kita berada di luar rungan dengan cahaya matahari maka gunakan icon matahari yang tersedia. Jika kita merekam dengan menggunakan cahaya lampu studio atau halogen maka gunakan icon lampu.

Kadang ada situasi saat kita melakukan perekaman dengan cahaya yang bercampur. Misalnya merekam di studio namun dengan tambahan cahaya dari jendela yang terbuka. Percampuran tersebut misalnya memiliki temperatur warna sekitar 4800 Kelvin. Pada situasi seperti ini maka kita pilih ikon K dan mengaturnya sampai warna video rekaman tampak natural.

7. Mengganti Lensa Kamera

Jangan lupa bahwa kita bisa mengambil keuntungan dari adanya variasi lensa kamera yang tersedia untuk kamera DSLR. Lensa tersebut bisa memberikan efek yang berbeda pada hasil video yang direkam. Camcorder konvensional biasanya memiliki lensa yang menyatu namun terdapat kekurangan pada tampilan lebar. Kita bisa menggunakan lensa dengan tipe berbeda seperti fisheye atau super wide-angle untuk merekam pada area yang luas. Atau kita bisa mencoba lensa yang dapat merekam kedalaman dengan lensa 50mm f/1.8.

Seara umum kita dapat menghasilkan gambar yang baik dengan lensa yang sudah tersedia. Kita akan mendapatkan gambar yang lebih tajam, lebih cepat fokus, dan lain-lain. Kita bisa mencoba lensa lainnya untuk mendapatkan hasil yang lebih menantang, namun kita perlu mencoba terlebih dahulu sebelum membeli agar nantinya benar-benar memang berguna.

8. Tripod dan Microphone Eksternal

Tripod diperlukan untuk proses perekaman yang lebih stabil. Jadi kita perlu menggunakannya saat proses perekaman video. Selain itu DSLR memiliki microphone yang tertanam di dalamnya namun hanya bisa merekam mono track. Jadi jika kita ingin merekam suara yang lebih jelas dari subyek rekaman maka perlu microphone eksternal. Kebanyakan kamera DSLR saat ini juga menyediakan fitur socket untuk stereo microphone.

Kesimpulan

Itulah beberapa tips untuk merekam video menggunakan kamera DSLR. Saat ini ada berbagai pilihan kamera DSLR. Kita bisa memilih kamera mana yang sesuai dengan kebutuhan serta budget yang dimiliki. Kamera-kamera tersebut kadang memiliki fitur yang berbeda namun pada dasarnya memiliki pengaturan yang sama.

Bagi yang benar-benar ingin menggunakan kamera DSLR untuk kepentingan video maka bisa memilih jenis kamera yang juga memberikan hasil video yang maksimum. Beberapa kamera DSLR terbaik untuk videografer antar lain Nikon D3300, Canon EOS Rebel T5, Canon EOS 5D Mark III, Nikon D3200, Canon EOS 6D, Nikon D5300, Sony A77 II, Canon EOS 80D, Nikon D7000, dan Nikon D810.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen + one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.