Perbedaan Lensa Kamera

Perbedaan Lensa Kamera: Lensa Wide vs Lensa Normal vs Lensa Tele

Sebenarnya apa sih fotografi itu? Fotografi atau photography berasal dari bahasa Yunani, yakni ‘photos’ yang berarti cahaya dan ‘graphe’ yang berarti menggambar. Itu artinya, fotografi berarti menggambar dengan cahaya. Zaman dulu, untuk memotret dibutuhkan proses pengoperasian cukup sulit dengan peralatan yang masih manual.

Sejarah Fotografi

Sejarah fotografi pada awalnya bermula dari cahaya dan disadari manusia jauh sebelum Masehi, pada abab kelima Sebelum Masehi. Pada saat itu seorang filsuf bernama Mo Ti mengamati fenomena tersebut. Bila pada dinding ruangan yang gelap terdapat lubang kecil, maka pada bagian dalam ruangan itu alam terefleksikan pemandangan di luar ruang secara terbalik lewat lubang tadi.

Sebenarnya tidak hanya beliau, namun banyak juga orang lain yang mengamati fenomena tersebut. Misalnya Aristoteles pada abad keempat Sebelum Masehi. Hanya saja para filsuf dan ilmuwan tersebut hanya melakukan pengamatan, namun tidak memberikan solusi atau memecahkan masalah secara terperinci.

Pada abad kesepuluh Masehi, ilmuwan Arab Ibnu Al Haytam berusaha menciptakan serta mengembangkan alat yang sekarang dikenal dengan nama kamera. Sedangkan pada tahun 1558, Giambattista, seorang ilmuwan Italia menyebut abscura pada sebuah kotak untuk membantu pelukis menangkap bayangan gambar. Dan perkembangan hingga munculnya kamera digital seperti yang kita ketahui saat ini pun terus berlanjut dari tahun ke tahun, abad kea bad.

Sejarah Fotografi Digital

Kamera digital merupakan teknologi terbaru pada fotografi. Perubahan revolusioner adalah pada media perekamnya, yakni media digital. Media digital terkait langsung dengan perkembangan dari teknologi merekam gambar pada televisi. Pada tahun 1951, untuk pertama kalinya video tape recorder mengambil gambar dari kamera televisi, kemudian mengonversi informasi tersebut menjadi suatu impuls listrik (digital) dan menyimpan informasi tersebut ke dalam tape magnetis.

Tim peneliti yang didanai oleh insinyur bernama Vrosby dan dipimpin oleh John Mullin, Bing Crosby Laboratorium, membuat versi awal dari VTR. Lalu pada tahun 1956, teknologi TVR semakin disempurnakan dan sudah bisa dipakai oleh industri televisi. Perkembagan teknologi televisi dan kamera video inilah yang menginspirasi perkembangan kamera digital dengan menggunakan Charged Couple Device, yakni bertujuan untuk mengatur warna dan intensitas cahaya. Saat itu pula era digital dimulai dan terus mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Pembagian Lensa Menurut Sudut Pandangnya

Menurut sudut pandangnya, lensa dibagi menjadi 3 macam, yakni:

1. Lensa Wide

Lensa Wide adalah lensa yang berfokus pendek dan menghasilkan citra lebih kecil dibandingnya lensa lain pada jarak yang sama, namun sudut pengambilan yang diperoleh akan lebih lebar. Ukuran lensa ini sendiri sangat beragam. Misal pada lensa fixed, 17mm, 24mm, 28mm, dan 35mm. Pada lensa wide zoom sendiri lensa variable dengan fokus lensa terpendek dan terpanjang masuk pada sudut pandang lebar. Misal, 8-16mm, 10-20mm, 17-40mm, dan lainnya.

Ciri dari lensa wide adalah distorsi, yang mana suatu fenomena penyimpangan optik yang tidak bisa dihindari karena lensa akan cenderung membengkokkan bidang gambar yang lurus, utamanya pada posisi wide atau tele. Distorsi saat wide biasanya disebut dengan barrel distortion (garis lurus menjadi melengkung keluar), sedangkan pada lensatele disebut sebagai pincushion (garis lurus menjadi melengkung ke dalam).

Adapun kelebihan penggunaan lensa ini adalah bisa mengambil gambar dengan sudut pandang lebar sehingga berguna sekali dalam ruang pengambilan gambar yang sempit. Contohnya kala mengambil gambar banyak orang dalam satu ruangan kecil, dan sebagainya. Karakteristik lensa bersudut pandang lebar adalah mampu mengambil gambar dramatis sebab adanya distorsi. Penggunaan lensa wide mampu memberikan karakter distorsi pada objek, dengan pengambilan gambar jarak dekat, tetapi memberikan sudut pandang lebar.

2. Lensa Normal

Lensa normal merupakan lensa yang bisa melakukan pemetaan citra tampak seperti perspektif dengan pandang normal mata manusia. Pemetaan jenis perspektif ini didapat sebab panjang dari fokus lensa sebanding dengan jarak diagonal fokal dengan sudut pandang pada diagonal sekitar 53 derajat. Lensa normal bisanya lebih tajam dibanding lensa zoom dan memiliki maksimal bukaan besar sehingga sangat baik digunakan untuk kondisi pencahayaan kurang. Karakteristik dari lensa ini yaitu ukurannya lebih pendek dibanding lensa zoom yang berfocal length sama.

3. Lense Tele

Lense tele merupakan lensa yang memiliki focal length panjang. Lensa ini dapat digunakan untuk memperoleh ruang tajam yang sempit dan dapat menghasilkan perspektif wajah yang mendekati aslinya. Penggunaan lensa tele juga mampu memberikan karakter tidak distorsi dan menimbulkan efek depth of field yaitu ruang tajam yang sempit sehingga mengakibatkan foreground dan background menjadi blur. Pengambilan gambar sendiri dapat dilakukan jauh dengan objek namun sudut pandang sempit.

Keuntungan dalam menggunakan lense tele adalah fotografer bisa mengambil gambar dari jarak yang terbilang jauh.

Yang harus kita ketahui ketika hendak memilih dan memiliki lensa adalah, setiap lensa memiliki kualitas yang berbeda. Produsen lensa biasanya membuat lensa dengan berbagai macam kelas dan seri. Misal, pada sebuah lensa 50mm terdapat 3 kelas, dan ketiganya mempunyai kualitas berbeda meskipun merek dan focal length sama. Pada dasarnya, produsen memproduksi lensa dibedakan dari bahan body lensanya. Misal, ada lensa dengan harga murah sebab bahan bodynya terbuat dari plastik, ada pula lensa dengan harga fantastis sebab lensa terbuat dari serat logam dan karbon.

Untuk menentukan kualitas dari sebuah lensa, ada tiga faktor yang harus dilihat, yakni:

  1. Kontras Gambar, yakni kemampuan lensa menangkap objek dipencahayaan yang berlainan.
  2. Penyajian Gambar, yakni kemampuan lensa menangkap warna objek. Hal ini harus seusai dengan apa yang kita lihat.
  3. Daya Pisah, yakni kemampuan lensa dalam menangkap objek. Semakin besar jumlah garis yang dapat dilihat atau terpisah, maka kualitas lensa akan semakin baik.

Memahami Kode Lensa

Kita pasti sering menemukan kode-kode di spesifikasi lensa ataupun pada body lensa. Setiap konde memiliki arti yang merujuk pada filtur yang tersedia pada lensa tersebut.

  • EF (Electronic Focus)

Kode ini dirilis Canon untuk lensa ber-autofocus.

  • EF – S (Electronic Focus – Short)

Kode ini diperuntukkan untuk kamera DSLR non full frame, sekaligus pada lensa ber-autofocus digital yang memiliki short focus.

  • AF – D (Distance)

Menyediakan jarak informasi kepada kamera dalam membantu proses metering.

  • IS (Image Stabilizer)

IS dapat mendeteksi guncangan kamera dan mengoreksinya secara otomatis.

  • DO (Diffractive Optical Element)

Kombinasi elemen lensa yang satu ini digunakan untuk mencegah munculnya aberasi kromatik (colour fringing) dan mereduksi ukuran pada lensa.

  • USM (Ultra Sonic Motor)

Motor pemfokusan yang mampu memberikan fokus tidak berisik sekaligus lebih cepat.

Lantas, apa saja anatomi lensa? Anatomi lensa terdiri dari: ulir filter, cincin zoom, cincin fokus, nama lensa, mounting lensa, angka jarak fokus, saklar pengganti mode fokus, dan indikator jarak fokus. Pada sebagian lensa terdapat VR/IS yang bertujuan untuk meredam getar. Pada sebagian lensa juga mampu membatasi jarak fokus terdekat sekaligus terjauh.

Baca artikel yang lain mengenai Cara Menerbangkan Drone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixteen − 11 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.