Cara Memotret Air Terjun

Cara Memotret Air Terjun untuk Pemula Supaya Hasilnya Bagus dan Profesional

Mengambil foto pemandangan alam adalah salah satu aktivitas fotografi yang paling banyak dilakukan, terutama oleh para pemula. Keindahan ciptaan yang Maha Kuasa memang tak ada tandingannya, terlalu berharga jika hanya dipandang begitu saja tanpa adanya kenang-kenangan untuk masa yang akan datang. Salah satunya adalah dengan mengambil foto panorama, dengan menggunakan teknik fotografi yang bagus supaya hasilnya ciamik dan menambah nilai estetika pemandangan itu sendiri.

Salah satu keindahan alam yang menjadi sasaran jepretan kamera para fotografer adalah air terjun, bukan tanpa alasan tertentu, salah satunya adalah karena air terjun terlihat sangat mewah dan elegan, ditambah lagi dengan banyaknya mitos serta legenda yang beredar mengenai air terjun sehingga menambah nilai lokasi wisata alam itu menjadi jauh lebih terkenal.

Selain itu, mengambil foto air terjun juga memberikan nilai plus untuk kesehatan dan stamina para fotografer, karena biasanya butuh kerja fisik yang lebih berat untuk sampai ke lokasi. Mengingat air terjun yang indah dan masih belum tersentuh tangan wisatawan medannya cukup terjal, maka para fotografer (terutama para pemula) wajib mengetahui tips memotret air terjun supaya hasilnya bagus, juga tidak berakibat buruk untuk kesehatan si fotografer itu sendiri. Berikut adalah tipsnya:

1. Lakukan Survey dan Riset

Pertama-tama, selalu biasakan untuk lakukan survey lokasi dan riset sebelum melakukan photoshoot di luar ruangan, terutama di tempat yang bukan comfort zone kita. Pun demikian dengan memotret air terjun, sebaiknya lakukan survey lokasi terlebih dahulu tanpa membawa perlengkapan fotografi lengkap (cukup kamera saku dan ponsel untuk jaga-jaga). Perhatikan rute perjalanan, kondisi air terjun, dan spot aman untuk melakukan pemotretan. Jangan lupa untuk bertanya pada rekan yang sudah pernah mendatangi lokasi ini, untuk mengetahui hal-hal teknis dan detail lainnya.

2. Perhatikan Kondisi Cuaca dan Musim

Jangan sepelekan musim jika ingin mengambil potret air terjun yang sempurna, pastikan kita mengetahui kondisi hutan di sekitar air terjun di setiap musim. Sebab ada air terjun yang tak terpengaruh musim kemarau sehingga airnya tetap banyak karena hutan di sekelilingnya masih sangat rimbun, ada juga yang baru berair saat musim hujan. Jangan sampai susah-susah kita sampai di lokasi, rupanya air terjun tak mengeluarkan air karena musim kemarau dan lain sebagainya.

3. Pakaian yang Aman dan Nyaman

Tak salah jika kita ingin mengabadikan foto diri dengan background air terjun yang megah, kita juga pasti ingin mengenakan pakaian yang layak supaya hasilnya semakin keren dan bergaya. Tetapi pastikan pakaian yang kita pakai adalah pakaian yang tidak menghalangi kebebasan bergerak, tetap mudah untuk bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain, serta melindungi tubuh dengan baik dari kemungkinan lintah atau serangga lain. Jangan pakai pakaian yang melebar atau berjubah supaya tidak tersangkut atau tersandung, bahaya.

4. Cari Sudut Pandang yang Tepat

Standar memotret air terjun adalah dari depan, tetapi rata-rata juga akan mengambil foto air terjun yang bisa diambil dari jalan utama. Tetapi, supaya hasilnya lebih bagus dan tidak monoton, baiknya cari angle lain yang lebih fresh dan belum banyak dilakukan oleh fotografer lainnya.

5. 1/3 Rules

Yang dimaksud dengan 1/3 rules atau aturan sepertiga adalah saat dimana kita membuat foto terbagi menjadi 9 bagian (dikotak-kotak), dan menempatkan objek pada sepertiga bagian foto. Kelebihan menggunakan teknik ini adalah kita bisa menangkap daerah yang lebih luas dari sekitar air terjun.

6. Kreatif Dengan Bingkai Alami

Jangan terpaku dengan hanya memotret air terjun dengan vertikal atau horizontal saja, gunakan berbagai property yang bisa kita temukan di sekitar lokasi. Misalnya saja dedaunan, atau aneka semak belukar pun bisa kita jadikan bingkai indah untuk mengambil foto air terjun. Adanya bingkai alami itu (misal dedaunan atau dahan dan ranting) akan membuat foto yang kita ambil lebih berdimensi karena menunjukkan jarak antara bingkai dengan air terjun.

7. Gunakan Filter yang Pas

Jangan ragu menggunakan filter lensa, sebab benda itu akan membuat foto yang kita ambil terlihat lebih menakjubkan, apalagi jika kita pandai menggunakannya. Untuk air terjun yang objeknya bergerak, maka ada dua filter yang direkomendasikan, yakni filter Natural Density (ND) dan juga Circular Polarizer (CPL). Jika ingin mengambil foto dengan teknik slow speed, maka filter ND akan sangat berguna karena akan membantu mengurangi jumlah cahaya yang masuk ke dalam kamera kita. Sementara itu filter CPL akan menghilangkan refleksi yang muncul di bebatuan yang diakibatkan cahaya matahari yang jatuh. Kemudian saat mengambil foto langit yang biru, maka warna langitnya juga terlihat lebih biru.

8. Slow Speed

Kita bisa mendapatkan hasil foto air terjun yang terlihat seperti benang halus atau surai yag panjang, dan tidak bisa kita lihat hanya berbekal mata telanjang saja, melaiknkan dengan menggunakan teknik low speed. Kuncinya adalah menggunakan kecepatan rana rendah, dan membutuhkan kestabilan tinggi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan. Untuk dapatkan kecepatan rana yang lebih pelan maka pastikan kita menggunakan ISO rendah, dan juga bukaan yang kecil.

9. Jangan Malas Bawa Tripod

Sekalipun agak ribet dan berat untuk dibawa, tapi percayalah membawa tripod sangat worth to do jika ingin mengambil foto air terjun yang bagus. Sangat berguna jika akan mengambil foto dengan menggunakan teknik slow speed.

10. Pakai Timer dan Matikan Image Stabilizer

Jika ingin mengambil gambar dengan teknik slow speed, pastikan menggunakan fitur timer untuk menghindari adanya goncangan mikro saat menekan shutter. Kemudian matikan image stabilizer yang ada dalam kamera atau lensa, sebab sistem akan membaca gerak air dalam kecepata rendah sebagai goncangan dan akhirnya kamera akan melakukan kalibrasi ke foto. Hasilnya? Foto jadi terlihat kabur.

11. Carilah Foreground dan Perhatikan Detail

Jangan memotret begitu-begitu saja, cobalah berkeliling dan cari foreground yang menarik dan letakkan objek tersebut di depan air terjun (misal bebatuan aneka ukuran yang ditumpuk dan lain sebagainya). Nah, metode ini dijamin akan menambah nilai artistik foto. Psst, boleh juga berpose narsis di depan foreground itu. Jangan lupa ambil detail-detail kecil yang terlewat, misalnya tetesan air di permukaan daun, atau lumut-lumut yang basah terkena cipratan air terjun.

12. Jangan Ragu Mempelajari Foto Orang

Kita bisa mencari inspirasi dari foto orang lain yang ada di internet, kemudian menerapkan teknik dan angle pengambilan fotonya pada air terjun yang sedang kita datangi. Dan jangan hanya berfokus pada air terjun, bisa juga mengambil mata air atau juga muara yang ada di sekitar lokasi untuk mendapatkan foto lain yang lebih bervariasi.

Demikian adalah beberapa tips memotret air terjun untuk pemula, supaya hasilnya bagus dan lebih profesional. Yang terpenting adalah kita memotret dengan enjoy dan menikmati semua prosesnya.

Baca artikel yang lain mengenai Panduan Editing Video

Lensa Fisheye

Lensa Fisheye Alias Lensa Mata Ikan yang Artistik

Perkembangan dunia fotografi kini sangat pesat. Teknologi berhasil mengubah kesan pada fotografi yang sebelumnya adalah dunia mahal, rumit, dan penuh perhitungan menjadi dunia yang sangat menyenangkan dan tidak terlalu berat dikantong. Kini, siapa saja bisa menghasilkan foto berkualitas walaupun hanya menggunakan kamera saku bahkan kamera dari ponsel.

Apa Sih Focal Length Itu?

Kita pasti pernah bertanya-tanya, bagaimana cara kerja fotografer dalam mendapatkan gambar yang sangat jauh namun objek yang difoto dapat mengisi seluruh frame? Atau cara mengabadikan sebuah objek dekat namun objek tersebut sekaligus area di sekelilingnya dapat mengisi penuh frame.

Dalam dunia fotografi, dikenal yang namanya focal length atau jarak fokus. Jarak fokus inilah yang menjelaskan jarak dalam millimeter antara lensa dan gambar yang berbentuk pada sensor (film) ketika terfokus tajam pada jarak tidak terbatas, yaitu jarak terjauh yang dapat dicapai lensa. Jarak ini menentukan sudut pandang, seluas apa pandangan lensa yang akan mengatur area mana dari pemandangan yang akan ditangkap. Area ini sendiri tergantung dari ukuran sensor (film).

Jarak fokus lensa menentukan perbesaran, yaitu ukuran gambar yang dibentuk lensa dan untuk mendapatkan gambar yang diinginkan, kita harus menggunakan lensa dengan jarak fokus tertentu. Kesimpulannya, focal length berarti semakin luas area yang dapat dicakup oleh lensa yang digunakan, maka semakin kecil ukuran objek yang terekam. Sebaliknya, jika lensa memiliki jarak fokus panjang, maka sudut pandang yang dihasilkan akan sempit dan membuat objek tampil lebih besar dalam frame foto. Jarak fokus ini bergantung dari lensa dan kamera DSLR yang akan digunakan. Sedangkan untuk kamera yang dengan sersor berformat APS-C, jarak fokus 35mm akan mampu memberikan jarak pandang seperti mata manusia normal memandang. Jarak pandang yang lebih dari 35mm disebut sebagai telefoto dan jika lebih rendah dari itu disebut sebagai wide angle atau sudut lebar.

Cara Kerja Lensa

Ketika berkas cahaya masuk dari media yang kurang padat dari media yang lebih padat (maksudnya dari udara menuju lensa), maka rambatan cahaya akan melambat. Ketika cahaya menyentuh permukaan lensa pada sudut tertentu, cahaya ini juga akan sedikit membelok, dan ini dinamakan dengan pembiasan. Ketika cahaya menembus kembali menuju udara, rambatannya menjadi lebih cepat, dan cahaya juga kembali mengalami pembiasan jika lensa memiliki sudut tertentu. Oleh sebab itu, bentuk lensa akan memfokuskan berkas cahaya parallel (tegak lurus dengan lensa di sepanjang sumbunya) pada titik tertentu.

Hal yang sangat menarik adalah ketika terjadinya berkas cahaya parallel satu sama lain, namun tidak parallel dengan sumbunya melalui titik tengah lensa. Lensa juga akan memfokuskan hal ini, namun pada titik atas, bawah, dan samping titik fokus untuk berkas di sepanjang sumbuhnya. Semua titik fokus berkas cahaya parallel ini akan membentuk focal plane lensa. Oleh sebab itu, jika sensor diletakkan pada focal plane, berarti kita menggunakan lensa untuk mengonsentrasikan cahaya pada sensor.

Jarak fokus lebih mudah dipahami dengan lensa yang memiliki elemen tunggal, namun kebanyakan lensa kamera tersusun atas banyak elemen individual terpisah. Lensa majemuk ini memiliki jarak efektif dari image plane, pada suatu titik di antara semua elemen dan grup, lebih jauh dari image plane, yakni jarak fokus lebih panjang. Jadi, ketika pemfokusan pada suatu objek lebih dekat dan tidak terbatas, lensa bergerak dari sensor, maka lensa akan menjadi lebih panjang.

Mengenal Lensa Kamera DSLR

Ada banyak jenis lensa yang bisa kita dapatkan dengan mudah dipasaran saat ini. Setiap produsen berlomba-lomba memberikan produk lensa terbaiknya dengan segala kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Sebelum memilih dan membeli lensa, ada baiknya kita mengenal setiap komponen di dalam lensa tersebut, agar tidak salah dalam memilih. Pilihlah lensa yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan.

Ada berbagai jenis lensa, yakni: lensa standar, lensa wide angle, lensa makro, lensa telefoto, lensa zoom, lensa fixed, lensa tilt and shift, lensa baby, lensa fisheye, dan sebagainya. Berikut akan dibahas seputar lensa fisheye.

Lensa Fisheye

Lensa Fisheye atau yang disebut juga sebagai lensa mata ikan, adalah salah satu jenis lensa sudut lebar (wide angle) yang mampu menimbulkan efek cembung pada objek. Mengapa lensa ini harus diberi nama fisheye? Sebab bentuk lensa ini memang menyerupai mata ikan yang berbentuk cembung.

Pada lensa fisheye, objek akan terdistorsi dan terkesan membulat. Ada dua jenis lensa fisheye, yakni jenis circular dan diagonal. Jenis circular akan menghasilkan foto berefek cembung dalam frame berbentuk lingkaran, dan area dikelilingi warna hitam. Sedangkan jenis diagonal adalah foto berefek cembung yang tampil penuh dalam foto. Lensa ini mampu mencakup area lanskap yang sangat luas, meski terdistorsi. Lensa fisheye tidak hanya digunakan untuk foto landskap, namun kita juga bisa menggunakannya untuk membuat foto portrait unik.

Ada banyak orang yang mengira bahwa lensa fisheye dan lensa wide angle sama. Sebenarnya tidak sama persis, namun kedua lensa tersebut memang memiliki persamaan, yakni pada jarak jangkauan luas dengan focal length pendek dibanding dengan lensa lainnya. Sedangkan perbedaanya terletak pada efek distorsi cembung yang dihasilkan, sekaligus sudut pandang yang begitu lebar. Misal, ada dua lensa yakni lensa Fisheye 8mm dan Wide Angle 8mm, meski berukuran sama, namun jangkauan fisheye jauh lebih lebar begitu pula cakupannya yang lebih luas.

Sejarah Hadirnya Lensa Fisheye dalam Dunia Fotografi

Lensa cembung atau fisheye pertama kali disebut oleh Robert W. Wood pada tahun 1906. Hal itu ia simpulkan setelah mengamati bahwa mata ikan mempunyai pandangan hemispercial lebar di perairan. Lensa cembung ini pertama kali dipergunakan di tahun 1920 untuk keperluan penelitian meteorology. Tentu saja pada saat itu lensa fisheye belum dihubungkan dengan perangkat digital seperti sekarang ini.

Prosuden pertama yang mengembangkan lensa cembung adalah Nikon Corp. Mereka pun mulai memproduksi dan mendistribusikan secara masal untuk keperluan dunia fotografi mulai tahun 1960. Dulu, pemasangannya lensa fisheye lebih populer pada kamera film berukuran 35mm. Lensa fisheye disebut juga sebagai lensa yang mampu membuat objek menjadi artistik. Tak heran sejak kemunculannya, lensa fisheye sudah berhasil menarik hati dan berhasil meraih kepopuleran.

Produk dan Harga

Sebenarnya tidak semua produsen kamera menghadirkan lensa fisheye sebagai salah satu produk mereka sebab dewasa ini tidak begitu banyak peminatnya, apalagi harga lensa ini dibrandrol cukup tinggi. Mulai dari 7 jutaan, hingga belasan juta. Adapun produk fisheye populer dan terkenl, antara lain:

  • Canon EF 8-15 f/4L.
  • Nikon 10.5 f/2.8 Fisheye (AF dan AF-S).
  • Samyang 8mm f/3.5 Fisheye.
  • Sigma 8mm EXDG Fisheye.

Semoga ulasan ini bisa bermanfaat ya.

Baca artikel yang lain mengenai Panduan Editing Video

Lensa Kamera DSLR

Mengenal Lensa Kamera DSLR dan Tips untuk Memilihnya

Kamera DSLR merupakan salah satu kamera digital yang sangat diminati masyarakat banyak beberapa tahun terakhir ini. Sebenarnya, apa sih arti dari DSRL? DSLR adalah singkatan dari Digital Single Lens Reflex.

Kamera ini bekerja dengan menggunakan cermin untuk memantulkan citra objek dari lensa ke prima dan viewfinder (lubang intip), kemudian melihat cermin tersebut untuk mengarahkan kamera pada sensor.

Kelebihan kamera DSLR, antara lain:

  1. Kualitas gambar yang dihasilkan lebih baik.
  2. Kontrol manual sangat lengkap dan disertai dengan menu auto.
  3. Banyaknya aksesoris tambahan, seperti lensa, flash, dan sebagainya.
  4. Kinerja lebih cepat.
  5. Kualitas gambar baik meskipun kekurangan cahaya.
  6. Kemudahan dalam menambahkan aksesoris tambahan, seperti lensa, lampu flash, remote cable, dan masih banyak lainnya.

Adapun kelemahan kamera DSLR, antara lain:

  1. Ukurannya besar dan lumayan berat.
  2. Harga cukup mahal.
  3. Setting manual terkadang menyulitkan pengguna baru.

Jenis Kamera DSLR

Kamera DSLR dibagi lagi dengan beberapa jenis, yaitu:

Kamera DSLR Crop Sensor

Pada kamera DSLR yang dilengkapi dengan crop sensor, disebut juga sebagai sensor APS-C (Advance Photo System – Classic). Sensor jenis ini memiliki juas kurang lebih ½ dari ukuran klise film 35mm. Hasil gambar menggunakan jenis kamera ini cukup memadai dan dapat digunakan dengan berbagai macam keperluan. Harga kamera DSLR Crop Sensor dipasaran saat ini untuk entry level dengan lensa kit sekitar 4jutaan, sedangkan untuk seri kamera High End tanpa lensa (disebut juga dengan kamera Body Only) masih dibandrol dengan harga belasan juta. Harga yang cukup mahal ini tentu saja dilengkapi dengan fitur-fitur yang sangat diperlukan oleh fotografer professional.  Kamera DSLR Crop Sensor seri High End dilengkapi dengan fitur shutter speed tinggi, autofocus lebih respontif, kerangka tangguh yang terbuat dari bahan Alloy Magnesium, dan isolasi terhadap debu dan lembab.

Kamera DSLR Full Frame

Sebenarnya cara kerja DSLR Full Frame tidak jauh berbeda dengan Kamera DSLR Crop Sensor. Perbedaannya terletak pada ukuran sensor yang digunakan. Nama Full Frame sendiri berasal dari ukuran sensor yang sama dengan klise standar 35mm, yaitu 36 x 24 mm. Dengan ukuran sensor tersebut, detail gambar dan kedalaman warna yang dihasilkan tentu saja sangat memuaskan. Kamera DSLR Full Frame hingga saat ini masih dibandrol dengan harga puluhan juta. Harga mahal ini sebanding dengan fasilitas dan kualitas yang diberikan. Tak heran kamera jenis ini biasanya digunakan sebagai kamera utama bagi para fotografer.

Menggunakan kamera DSLR Full Frame, kualitas gambar yang dihasilkan akan maksimal. Yang perlu diperhatikan adalah sensor pada kamera ini lebih besar, sehingga membutuhkan lensa pandangan yang lebih luas dibandingkan kamera Crop Sensor. Penggunaan lensa khusus Crop Sensor pada kamera Full Frame akan menyebabkan tepian hitam, atau disebut juga dengan vignetting. Contoh, lensa kit 18-55mm pada Crop Sensor sering digantikan oleh lensa kit 24-85mm pada Full Frame yang ukurannya lebih besar. Jadi, cek terlebih dahulu kompatibilitas lensa yang digunakan untuk melengkapi kamera yang kamu gunakan.

Lensa Standar

Lensa standar pada kamera DSLR full frame biasanya berukuran 40mm-55mm, meskipun pada umumnya lebih banyak berukuran 55mm, sebab menghasilkan area pandang menyerupai mata manusia. Lensa standar atau yang biasa juga disebut sebagai lensa normal menawarkan perspektif yang tidak terdistorsi dan seringkali digunakan untuk membuat portrait. Sensor berukuran APS-C ukuran 35mm merupakan lensa yang paling mendekati untuk sensor. Sebagian besar lensa DSLR dilengkapi dengan zoom standar, bervariasi mulai dari wide angle hingga telefoto pendek.

Berikut beberapa pilihan lensa dari sejumlah lensa dari berbagai vendor kamera dan lensa:

  • Canon 17-55mm f/2.8 IS USM EFS.
  • Nikon 18-55mm f/3.5 – 5.6G VR DX AF-S.
  • Sony 18-200mm f/3.5 – 6.3 DT.
  • Tamron 17-50mm f/2.8 XR Di II VC SP AF.
  • Pentax 18-55mm f/3.5 – 5.6.

Tips Memilih Lensa

Sebenarnya bagaimana cara memilih lensa yang baik? Berikut beberapa tips agar tidak salah dalam memilih lensa kamera:

  • Kecepatan Lensa

Kecepatan lensa merupakan poin penting dalam memilih lensa. Lensa yang cepat memiliki apertur maksimal yang lebar, misal f/2.8, f/1.8, dan seterusnya. Apertur lebar dapat memperbanyak jumlah cahaya yang masuk dan kecepatan shutter speed lebih cepat. Kekurangannya, lensa seperti ini lebih mahal dan berat.

  • Zoom

Ada dua macam tipe zoom, yakni model tarik/dorong yang menyerupai trombone, dan model cincin yang lebih umum digunakan khalayak ramai.

  • Ergonomika

Memilih lensa juga harus disesuaikan dengan jangkauan jari. Jadi, jangan asal pilih, ya! Sebelum memutuskan untuk memilih lensa, pastikan lensa tersebut benar-benar bisa digenggam dengan erat.

  • Jarak Fokus

Jarak fokus juga harus dipertimbangkan dalam memilih lensa, khususnya lensa telephoto. Lensa yang memberikan kelebihan yakni pembesaran yang sangat besar memang sangat bagus, namun jika ia tidak mampu menjangkau jarak cukup dekat, maka diperlukan tabung ekstensi untuk menambah jarak jangkauan lensa itu sendiri.

  • Kualitas Optik

Untuk mengetahui kualitas optik dari sebuah lensa, kamu harus mencoba lensa tersebut terlebih dahulu, atau membaca ulasan mengenai kualitasnya pada brosur atau info yang tertera. Lensa yang baik adalah lensa yang mampu mengatasi vignetting, flare, dan optical aberrations. Bagaimana cara mengetahuinya? Fitur-fitur tersebut dapat diketahui melalui huruf-huruf yang tertera setelah jarak fokus, yakni APO, ASP, L, dan ED.

  • Ring Lensa

Lensa murah biasanya memiliki elemen pada bagian depan yang dapat diputar ketika lensa difokuskan. Sebenarnya ini bisa merepotkan jika pada lensa terpasang filter, termasuk polarizer sebab efek yang dihasilkan akan berubah jika diputar. Solusinya adalah dengan memfokuskan lensa terlebih dahulu sebelum melakukan pengaturan filter.

  • Aperture

Salah satu faktor yang mempengaruhi harga lensa zoom adalah kemampuan lensa menjaga aperture tetap berada dalam posisi tetap pada seluruh jangkauan zoom. Lensa seperti ini biasanya dibandrol dengan harga mahal. Tetapi jika aperture mengecil saat melakukan zoom, harga lensa bisa lebih murah. Kekurangan lensa dengan aperture yang berubah saat dilakukan zoom adalah kecepatan shutter harus diperlambat agar tetap mendapat eksposur yang sama. Itu artinya, guncangan kamera sangat perlu diperhatikan.

  • Skala

Skala jarak diperlukan untuk mengatur ruang tajam agar mampu memaksimalkan ketajaman foto dari depan ke belakang. Selain itu, skala juga sangat diperlukan jika kamu ingin memotret lanskap. Biasanya lensa yang dilengkapi dengan fasilitas pengfukur jarak pada bodinya, memiliki harga lebih mahal.

  • Tudung Lensa

Tidak semua lensa dilengkapi dengan tudung lensa. Jika lensa tidak memiliki lens hood, kemungkinan biaya ekstra akan sangat dibutuhkan. Begitu juga dengan collar tripod (penampang untuk pemasang lensa pada tripod) bagi lensa berukuran lebih besar.

Baca artikel yang lain mengenai Tips Merekam Video

Lensa Zoom vs Lensa Fix

Lensa Zoom vs Lensa Fix? Pilih Sesuai Kebutuhanmu!

Sejak akhir abad ke-20, fotografi digital muncul dan mulai dikenal oleh banyak orang. Munculnya fotografi digital seiring dengan berkembangnya teknologi. Fotografi digital memberikan banyak keuntungan, antara lain hasil yang bisa didapatkan secara instan, kemudahan dalam penyimpanan dan pengolahan, dan yang terpenting biaya yang dikeluarkan cukup ekonomis. Keunggulan tersebut membuat fotografi digital semakin mudah diakses masyarakat.

Dengan berkembangnya teknologi, otomatis kemajuan internet juga ikut berkembang. Tak heran jejaring sosial, photoblog, dan berbagai macam galeri online bermunculan. Hal tersebut menjadikan fotografi menjadi sangat populer, jauh melebihi perkeriaan perintisnya saat itu. Masyarakat berlomba-lomba untuk menghasilkan foto terbaik. Maklum saja, saat ini semua orang—tanpa mengenal usia, latar pendidikan, ras, golongan, tempat tinggal, dan berbagai hal lainnya—bisa memotret yang kemudian berbagi dengan rekan atau fotografer di seluruh penjuru dunia pada waktu yang hampir bersamaan.

Di Indonesia sendiri, fotografi digital menjadi tren kurang lebih tiga tahun belakangan ini. Oleh sebab itu, pemandangan ketika orang-orang menenteng kamera sudah tidak asing lagi dilihat. Sebenarnya hal ini sudah terjadi di Indonesia sejak tahun 1980-an. Hanya saja saat itu kamera yang digunakan adalah jenis kamera film, sedangkan saat ini masyarakat sudah beralih pada kamera yang lebih canggih, yakni kamera digital.

Pengertian Fotografi

Sebenarnya apa sih fotografi itu? Fotografi atau photography berasal dari bahasa Yunani, yakni ‘photos’ yang berarti cahaya dan ‘graphe’ yang berarti menggambar. Itu artinya, fotografi berarti menggambar dengan cahaya. Zaman dulu, untuk memotret dibutuhkan proses pengoperasian cukup sulit dengan peralatan yang masih manual.

Seiring berkembangnya teknologi, perubahan pada dunia fotografi pun berangsur-angsur mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Step by step yang dialami pada dunia inilah yang akhirnya berhasil menciptakan fotografi digital seperti yang kamu  kenal saat ini.

Saat ini, jenis kamera yang biasa digunakan pada fotografi digital adalah kamera berjenis DSLR dan Mirrorless. Sebenarnya penggunaan kedua jenis kamera ini tidak terlalu rumit. Memotret dengan jenis kamera ini berarti kamu  harus memahami dua tahap memotret, yakni tahap Preview (ketika pengguna melihat pemandangan visual yang akan dipotret) dan tahap Capture (ketika kamera menangkap citra gambar dan menyimpannya sebagai foto pada media penyimpanan).

Cara Kerja Kamera DSLR

Kamera berjenis DSLR (Digital Single Lens Reflex) memanfaatkan satu grup lensa untuk melakukan tahap Preview dan Capture. Mekanismenya merupakan mekanisme cermin untuk mengarahkan citra visual objek yang dipotret. Objek akan masuk melalui sisi depan lensa, yang kemudian dipantulkan oleh cermin ke arah atas. Pantulan ini nantinya akan mengarah menuju prisma atau cermin segilima, lalu diteruskan pada Viewfinder (lubang incar). Lalu bagaimana dengan tahapan Capture? Pada jenis kamera ini, tahapan capture mekanismenya dengan menggerakkan cermin ke atas, bersamaan dengan membukanya bila penutup pertama yang sering disebut sebagai First Curtain. Hasilnya cahaya dari elemen lensa akan diteruskan secara langsung pada Sensor selama beberapa saat, sampai Shutter kedua bergerak menutup sensor dan mengakhiri esposure. Citra yang ditangkap tadi akan diproses oleh chip sebagai data digital dan disimpan sebagai file foto pada memori (media penyimpanan).

Cara Kerja Kamera Mirrorless

Jenis kinerja kamera Mirrorless berbeda dengan DSLR. Pada kamera ini, tidak digunakan mekanisme cermin untuk mengatur arah cahaya ke viewfinder. Cahaya masuk melalui sisi depan lensa, yakni melalui elemen-elemen optic dan pengaturan aperture, kemudian menuju sensor. Citra gambar akan ditampilkan secara langsung pada Display ataupun Electronic Viewfinder sebagai preview pengganti lubang incar. Tahap Capturenya sendiri diawali dengan menggerakkan bila penutup pertama dari mekanisme Shutter ke atas untuk menghalangi sensor. Lalu, bila shutter pertama akan membuka untuk mengawali exposure. Kemudian bila penutup akan bergerak ke bawah menutupi sensor dan mengakhiri exposure. Gambar yang diterima pada sensor saat kedua shutter terbuka inilah yang nantinya diproses chip kamera dan dipindahkan sebagai file foto pada media penyimpanan.

Lensa = Mata Kamera

Pada kamera, lensa merupakan salah satu bagian terpenting. Mengapa demikian? Sebab bentuk dan kualitas lensa serta pelapis pada permukaannya dapat membantu menentukan kualitas foto. Perpanduan elemen pada lensa juga menentukan jarak fokus dan kualiatas optik. Kamera kompok memiliki lensa built in yang sesuai dengan sensor yang berada di belakangnya. Sayangnya kamera model ini memiliki berbagai keterbatasan soal lensa dibandingnya dengan lensa yang dapat diganti, misal pada kamera DSLR.

Area pandang yang bisa dihasilkan pada lensa bisa sangat beragam. Misal pada lensa wide angel untuk mengabadikan pemandangan luas, atau lensa telefoto untuk mengabadikan objek jauh. Inilah mengapa berbagai lensa banyak diciptakan bagi pengguna kamera DSLR.

Lalu, bagaimana cara memilih lensa yang tepat? Setiap lensa pasti dilabeli sesuai dengan jarak fokus antara lensa dan gambar dalam millimeter, yang terbentuk pada sensor kamera digital ketika difokuskan dengan tajam pada jarak tidak terbatas. Misal, 18mm sampai 55mm. Oleh sebab itu, kamu  perlu mencermati nilai ini sebelum menentukan lensa yang tepat pada kamera yang dimiliki. Lensa merupakan bagian yang akan menentukan sudut pandang, seluas apa pandangan lensa, dan area mana saja dari objek yang akan diabadikan.

Pada prinsipnya, pilihan lensa harus ditentukan sesuai dengan gaya fotografi yang kamu  inginkan. Apalagi dipasaran tersedia banyak sekali pilihan. Jadi, jangan sampai bingung karena banyaknya pilihan. Kamu harus memahami bahwa pemilihan lensa harus kompatibel dengan lens mount kamera. Jangan membeli lensa Canon lalu memasangkannya pada kamera Sony. Begitu sebaliknya. Oleh sebab itu, dalam membeli lensa harus sesuai dengan merek kamera yang dibeli.

Lensa Zoom vs Lensa Fix

Jika dilihat dari mekanismenya, lensa dibagi menjadi dua yakni lensa zoom dan lensa fixed. Lensa zoom adalah lensa yang memiliki rentang panjang fokus 18-55mm atau 80-200mm. Sementara lensa fixed adalah lensa yang memiliki panjang fokus tetap, misal lensa 50mm atau 30mm.

Biasanya kamera DSLR sudah dilengkapi dengan lensa kit berupa lensa zoom. Lensa ini sangat cocok dengan berbagai macam kondisi, sebab jarak fokusnya setara dengan zoom optik 3x pada model yang paling kompak. Sehingga jangkauannya meliputi wide angle menengah hingga telefoto pendek, dengan jarak fokus 18-55mm atau 18-70mm. Jika bingung ingin memilih lensa wide atau tele, sebaiknya gunakan saja keduanya. Kamu bisa menambahkan lensa zoom kedua yakni jangkauan 70-200mm, sehingga kamu bisa melihat objek lebih dekat.

Lensa fixed sendiri biasa juga disebut sebagai lensa prime. Pada lensa ini, optik cenderung berkualitas tinggi dibanding dengan lensa zoom sebab optiknya didesain untuk dibiaskan pada tujuan tertentu, bukan didesain untuk menangkap semua pemandangan yang ada di hadapannya. Selain itu, lensa prime juga memiliki kecepatan tinggi karena mampu menyediakan apertur lebar maksimal.

Baca artikel yang lain mengenai Tips Merekam Video

Panduan Editing Video

Panduan Editing Video untuk Pemula dan Daftar Software

Mengedit video dapat dilakukan oleh pemula karena sebenarnya tidak harus sulit dan rumit dengan bantuan berbagai aplikasi yang telah tersedia. Namun pengeditan video membutuhkan alat yang tepat. Memilih program atau software editing video yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan akan memudahkan kita dalam mengedit video. Berikut ini beberapa hal yang perlu dipersiapkan saat akan memulai proses editing video:

1. Perangkat Komputer

Video editing sesungguhnya tidak membutuhkan komputer yang mahal atau berspesifikasi tinggi terutama jika kita adalah pemula. Kita memerlukan monitor yang layak dan video card. Keduanya biasanya sudah terpasang pada kebanyakan komputer atau laptop. Jika kita memiliki komputer yang agak lama, maka perlu memeriksa apakah spesifikasi software dapat bekerja dengan komputer yang ada.

Beberapa komputer lama biasanya bekerja kurang cepat untuk video editing jadi perlu adanya upgrade untuk keseluruhan sistem. Jika kita baru akan membeli perangkat komputer atau laptop dengan tujuan sebagai perangkat video editing maka belilah yang memiliki hard drive besar atau kapasitas memori besar.

Pilih komputer yang mudah di-upgrade jika nanti masih ingin menambah memori. Jika masih belum memiliki pilihan maka komputer Mac biasanya menjadi pilihan yang paling mudah. Sementara itu PC biasanya disukai oleh profesional editing. Namun pemula bisa memilih mana yang mereka suka asal memiliki spesifikasi yang baik.

2. Software Editing Video

Memilih software editing video kadang membuat kita bingung. Saat ini ada banyak software editing video dengan harga yang beragam dan fitur yang berbeda. Jika kita adalah seorang pemula maka ada baiknya memiliki software video editing yang gratis. Karena belum tentu itu cocok dengan kita, akan mengecewakan jika kita sudah terlanjur membeli tapi ternyata tak bisa digunakan secara optimal.

Tampilan antar muka kadang tampak rumit namun melalui trial dan error pada aplikasi maka kita bisa memahaminya. Berikut ini beberapa software editing video pilihan:

  • VideoPad Video Editor: merupakan program gratis yang dapat diunduh untuk sistem operasi Windows XP, Vista serta Windows 7, 8, dan 10. Selain itu tersedia juga untuk Mac OS X, iOS, dan Android. Dengan aplikasi ini kita dapat mengedit video dan menambahkan musik.
  • VSCD Video Editor: merupakan aplikasi gratis untuk Windows Vista, 7, 8, dan 10. Ada juga versi berbayarnya. Video yang dihasilkan mendukung format untuk PC, iPhone, web, dan DVD.
  • Shotcut: merupakan software open source untuk Linux, Windows, dan Mac OS X. Shotcut dapat mengekspor video ke dalam berbagai format termasuk format MP4 dan format gambar seperti JPG dan PNG.
  • iMovie: merupakan aplikasi yang dapat digunakan pada komputer Mac dan dapat diunduh pada perangkat iOS. IMovie tidak mudah digunakan namun memiliki fitur yang lengkap dan gratis. Jika kita ingin mengintegrasikan video, kumpulan foto, dan musik maka kita dapat menggunakan aplikasi ini baik di komputer maupun perangkat mobile.

3. Aksesoris Video Editing

Sebelum memulai sebuah proyek video perhatikan bahwa sisa kapasitas memori di komputer harus cukup untuk menyimpan semua file footage yang diperlukan. Misalnya jika satu jam video 1080i yang didapat dari sebuah mini-DV camcorder membutuhkan hampir 42GB memor. Jika ternyata hard drive internal komputer kita atau flash memory tak mampu menyimpan semua maka solusinya adalah dengan membeli sebuah drive eksternal.

Kita membutuhkan beberapa kabel, biasanya kabel Firewire atau USB untuk menghubungkan komputer dengan hard drive eksternal dan kamera. Komputer dan kamera yang berbeda biasanya membutuhkan konektor yang berbeda, jadi perlu diperiksa pada buku manual sebelum membeli apapun.

4. Menyiapkan Video untuk Diedit

Sebelum kita memulai mengedit, maka dibutuhkan sebuah video untuk diedit. Kebanyakan program editing video menerima berbagai format sepanjang videonya berasal dari alat perekam atau ponsel pintar. Jika kita mereka video dengan perekam digital maka akan mudah untuk meng-impornya pada software yang telah diunduh. Saat ini perekam video pada ponsel pintar sudah ada yang mendukung video HD jadi hasilnya sudah cukup baik untuk menghasilkan sebuah video-film.

Terkadang kita ingin mengedit video lama yang berasal dari VHS tape. Sebelum mengedit video analog tersebut maka kita perlu melakukan konversi terlebih dahulu pada format video. Konversikan video tersebut ke format digital sehingga dapat diimpor ke software editing. Konversi video dapat dilakukan dengan bantuan aplikasi. Baca panduan tentang bagaimana mengkonversi video analog menjadi format digital.

5. Tips Mengedit Video

Tak peduli apa program editing video yang digunakan, ada beberapa tips dan trik yang akan meningkatkan proses editing video yang dilakukan. Meskipun sudah memiliki komputer yang sesuai, software dan aksesoris yagn dibutuhkan, tapi pada akhirnya editing video yang baik datang dari latihan dan kesabaran. Berikut ini beberapa tips yang bisa digunakan saat mengedit video:

  • Siapkan rekaman video lebih banyak dari yang kita pikir perlu. Termasuk rekaman yang lebih lama pada sebuah tema video. Kita dapat menggunakannya untuk transisi yang lebih halus pada film yang akan dibuat.
  • Saat merekam video maka ada baiknya menggunakan tripod daripadanya hanya dengan tangan langsung. Merekam dengan memegang perekam lewat tangan langsung cenderung membuat hasil rekaman menjadi bergoyang. Jadi ada baiknya menggunakan alat seperti tripod yang menjaga agar alat perekam tetap stabil saat merekam video.
  • Gunakan musik instrumental untuk pemanis daripada musik berlirik. Meskipun mungkin iramanya cocok dengan tema video yang dihasilkan namun kadang liriknya tidak sesuai. Kecuali jika kita membuat lagu sendiri dengan lirik yang khusus untuk video tersebut.
  • Jangan menggunakan banyak efek video yang terdapat pada software di video film yang sama. Kadang lebih sedikit efek akan lebih baik. Gunakan efek yang diperlukan saja sesuai dengan tema video yang diedit.
  • Tampilan close up dan jarak media lebih baik dari tampilan jauh untuk membuat penonton tertarik. Saat merekam sebuah video usahakan untuk membuat rekaman dari jarak sedang ataupun dekat, selain jarak jauh. Kita juga bisa mengeditnya melalui program editing video. Pastikan hasilnya bisa menarik penonton.
  • Istirahat setelah melakukan edit ronde pertama. Coba keluar dari kamar dan mengalihkan pandangan dari komputer. Mengedit video kadang melelahkan apalagi jika video tersebut memiliki waktu yang cukup lama.

Menggunakan software editing video bagi pemula memang susah-susah gampang. Setiap orang juga memiliki kemampuan yang berbeda-beda saat harus berhadapan dengan hal baru. Ada orang yang lebih mudah memahami jika mengikuti tutorial yang disediakan oleh setiap software tapi ada juga yang lebih suka langsung mencoba-coba pada aplikasinya. Jika kesulitan menggunakan software editing video tersebut jangan malas untuk mencari tutorialnya atau bertanya pada yang bisa. Pemula perlu terus mencoba sampai bisa menghasilkan video yang diinginkan.

Baca artikel yang lain mengenai Tips Merekam Video

Tips Merekam Video

8 Tips Merekam Video Menggunakan Kamera DSLR

Kamera DSLR saat ini memiliki kemampuan untuk merekam video high-definition(HD). Fitur yang dimiliki memudahkan pengguna untuk mengubah proses memotret foto dengan merekam video hanya menggunakan sebuah tombol. Menggunakan DSLR, pengguna diberi pilihan lensa beragam yang dapat berguna untuk menciptakan efek tertentu serta resolusi video yang berkualitas. Berikut ini beberapa tips yang perlu diperhatikan saat merekam video dengan menggunakan kamera DSLR:

1. Memahami Format File dan Kualitas Video

Ada banyak file format yang tersedia saat perekaman video melalui kamera DSLR, ini tergantung pada merek dan tipe kamera yang dipakai. Canon DSLR menggunakan variasi format file MOV, Nikon dan Olympus menggunakan format AVI, sedangkan Panasonic dan Sony menggunakan format AVCHD. Meskipun hasilnya memiliki format yang berbeda tapi tidak perlu terlalu khawatir. Saat ini semua video bisa diubah menjadi format yang berbeda saat editing.

Selain format file, kualitas video yang dihasilkan kamera DSLR kadang berbeda juga. DSLR yang bagus bisa merekam sampai full HD ini yang setara dengan resolusi 1080×1920 piksel pada rate 24 sampai 30 fps atau frames per second. DSLR yang murah bisanya hanya menawarkan perekaman video sampai 720HD atau 1280×720 piksel. Meskipun lebih rendah namun ini masih dua kali resolusi format DVD jadi masih layak untuk digunakan.

2. Pengaturan Video: Frame Rate dan Aspect Ratio

Pengaturan video pada kamera diperlukan jika kita ingin membuat tampilan video yang berbeda. Misalnya jika kita ingin agar tampilan video kita seperti tampilan pada film-film bioskop maka frame rate perlu diatur pada 24fps atau 25fps. Frame rate tersebut memang biasanya digunakan untuk film bioskop. Jika kita ingin merekam pada frame rate yang lebih tinggi dengan tujuan untuk menciptakan video slow-motion maka perlu mengatur ulang. Misalnya dengan menggunakan 48 fps atau 60 fps.

3. Pengaturan ISO

ISO menunjukkan tentang seberapa sensitif kamera terhadap cahaya. Mudahnya, semakin tinggi ISO maka gambar akan semakin cerah, sedangkan semakin rendah ISO maka gambar akan semakin gelap. Menggunakan ISO tinggi yaitu lebih besar dari ISO640 dapat digunakan saat perekaman di dalam ruangan tanpa adanya banyak cahaya luar.

Biarkan ISO rendah saat merekam di luar ruangan saat cuaca cerah atau di studio yang menggunakan banyak cahaya lampu. Pengaturan ISO ini sangat berguna saat perekaman. Jika kita menaikkan ISO maka biasanya kita akan melihat noise atau gangguan pada gambar jadi perlu melakukannya dengan hati-hati. Kamera akan merekam terbaik saat berada di range ISO bawah.

4. Mengatur Aperture

Aperture mengendalikan jumlah cahaya yang mencapai sensor gambar. Semakin kecil nilainya maka semakin terbuka aperture nya. Semakin tinggi nilainya maka semakin kecil aperture-nya. Ini bekerja layaknya sebuah pupil pada mata manusia.saat kamera diafragma terbuka maka cahaya akan masu, dan saat sedikit tertutup maka cahaya hanya sedikit yang masuk.

Kita bisa menggunakan aperture kecil seperti f/1.8 untuk membiarkan banyak cahaya masuk ke dalam kamera pada situasi cahaya yang redup. Jika kita melakukan perekaman di luar dengan cahaya yang banyak maka kita bisa mengatur aperture dengan angka yang besar misalnya f/10 sehingga membatasi terlalu banyak cahaya yang masuk ke kamera.

Aperture juga mengontrol kedalaman pemandangan. Untuk mendapatkan latar belakang yang tak fokus maka kita bisa mengatur aperture yang selebar mungkin misalnya f/1.8. Namun jika kita ingin semua yang tertangkap tampak fokus maka perlu aperture yang tertutup seperti f/22.

5. Kecepatan Shutter

Kecepatan shutter menunjukkan seberapa banyak waktu sensor kamera terkena cahaya. Semakin lama shutter terbuka misalnya 1/30 dalam sedetik maka semakin banyak cahaya masuk sehingga pergerakan akan lebih tidak jelas. Sedangkan semakin cepat seperti 1/500 dalam sedetik maka semakin sedikit cahaya akan masuk ke sensor, sehingga kita mampu menghentikan pergerakan.

Jika kita ingin mengatur kecepatan shutter ini maka gunakan aturan umum yaitu: kalikan dua dari frame rate. Jadi misalnya jika kita merekam pada 24 fps maka shutter speednya harus 1/48, jika merekam pada 60fps maka shutter speednya harus 1/120.

Secara teknikal ini tidak banyak berpengaruh. Yang perlu diprioritaskan yaitu pertama aperture, kedua ISO, dan baru kemudian shutter.

6. White Balance dan Temperatur Warna

Sumber cahaya yang berbeda seperti cahaya lampu dan matahari memiliki temperatur yang berbeda pula. White balance memberikan informasi temperatur warna dari cahaya saat proses perekaman. Cobalah cocokkan aturan white balance dengan cahaya saat perekaman. Misalnya jika kita berada di luar rungan dengan cahaya matahari maka gunakan icon matahari yang tersedia. Jika kita merekam dengan menggunakan cahaya lampu studio atau halogen maka gunakan icon lampu.

Kadang ada situasi saat kita melakukan perekaman dengan cahaya yang bercampur. Misalnya merekam di studio namun dengan tambahan cahaya dari jendela yang terbuka. Percampuran tersebut misalnya memiliki temperatur warna sekitar 4800 Kelvin. Pada situasi seperti ini maka kita pilih ikon K dan mengaturnya sampai warna video rekaman tampak natural.

7. Mengganti Lensa Kamera

Jangan lupa bahwa kita bisa mengambil keuntungan dari adanya variasi lensa kamera yang tersedia untuk kamera DSLR. Lensa tersebut bisa memberikan efek yang berbeda pada hasil video yang direkam. Camcorder konvensional biasanya memiliki lensa yang menyatu namun terdapat kekurangan pada tampilan lebar. Kita bisa menggunakan lensa dengan tipe berbeda seperti fisheye atau super wide-angle untuk merekam pada area yang luas. Atau kita bisa mencoba lensa yang dapat merekam kedalaman dengan lensa 50mm f/1.8.

Seara umum kita dapat menghasilkan gambar yang baik dengan lensa yang sudah tersedia. Kita akan mendapatkan gambar yang lebih tajam, lebih cepat fokus, dan lain-lain. Kita bisa mencoba lensa lainnya untuk mendapatkan hasil yang lebih menantang, namun kita perlu mencoba terlebih dahulu sebelum membeli agar nantinya benar-benar memang berguna.

8. Tripod dan Microphone Eksternal

Tripod diperlukan untuk proses perekaman yang lebih stabil. Jadi kita perlu menggunakannya saat proses perekaman video. Selain itu DSLR memiliki microphone yang tertanam di dalamnya namun hanya bisa merekam mono track. Jadi jika kita ingin merekam suara yang lebih jelas dari subyek rekaman maka perlu microphone eksternal. Kebanyakan kamera DSLR saat ini juga menyediakan fitur socket untuk stereo microphone.

Kesimpulan

Itulah beberapa tips untuk merekam video menggunakan kamera DSLR. Saat ini ada berbagai pilihan kamera DSLR. Kita bisa memilih kamera mana yang sesuai dengan kebutuhan serta budget yang dimiliki. Kamera-kamera tersebut kadang memiliki fitur yang berbeda namun pada dasarnya memiliki pengaturan yang sama.

Bagi yang benar-benar ingin menggunakan kamera DSLR untuk kepentingan video maka bisa memilih jenis kamera yang juga memberikan hasil video yang maksimum. Beberapa kamera DSLR terbaik untuk videografer antar lain Nikon D3300, Canon EOS Rebel T5, Canon EOS 5D Mark III, Nikon D3200, Canon EOS 6D, Nikon D5300, Sony A77 II, Canon EOS 80D, Nikon D7000, dan Nikon D810.