Lensa EF dan EF-S

Mengenal Lensa EF dan EF-S pada Kamera Canon

Ketika kita membeli kamera yang lensanya bisa ditukar, itu artinya kita sudah masuk pada suatu sistem. Kita telah terikat pada piihan lensa dan aksesoris yang telah ditetapkan. Contoh, ketika kita membeli kamera Canon, berarti kita hanya bisa menggunakan lensa buatan Canon. Memang ada beberapa kamera yang bisa menggunakan lensa dari sistem lain, misal melalui sambungan atau adapter khusus. Hanya saja hal ini sangat merepotkan dan biasanya fungsi-fungsi penting kamera bisa terganggu bahkan hilang. Misalnya fungsi dari auto fokus, dan masih banyak lainnya.

Sejarah Kamera SLR Canon

Sistem Canon EOS diawali oleh sebuah kamera Canon EOS 650 yang lahir pada tahun 1097 dan hingga saat ini masih digunakan. Sebelumnya, Canon memiliki sistem FD yang sudah cukup lengkap, baik kamera maupun lensanya. Canon meninggalkan sistem FD sebab sistem FD memiliki kelemahan dalam kinerja auto fokus. Apa sih EOS itu? EOS adalah singkatan dari Electro Optical System. Nama ini merupakan nama dari dewi Fajar Yunani. Nama inilah yang menandakan era baru pada kamera SLR Canon.

Di dalam EOS, Canon mengganti bagian mekanik yang menghubungkan antara lensa dan kamera dengan konfigurasi elektronik penuh. Nama kontak antara lensa dan kamera dinamakan EF mount. EF mount sendiri memiliki diameter lebih besar dibanding kamera DSLR lain, yaitu 54mm. Diameter besar ini memungkinkan kamera menggunakan lensa yang berbukaan sangat lebar, misal f/1.2.

Kemudian Canon kembali mengeluarkan inovasi baru, yakni dengan mengeluarkan teknologi Ultrasonic fokus (USM). Dengan teknologi ini, auto fokus bisa dicapai dengan sangat cepat. Selain itu, operasi auto fokus menjadi tidak bersuara, lebih akurat dan memungkinkan untuk menggunakan manual fokus dan mengabaikan auto fokus yang tengah aktif.

Kamera digital pertama Canon EOS adalah Canon EOS DCS3, beresolusi 1.3 MB dengan harga ratusan juta. Saat itu, Canon bekerja sama dengan Kodak. Selanjutnya, produksi komponen penting dikembangkan oleh Canon sendiri. Calon EOS sendiri sudah menjadi salah satu pemimpin pasar di bidang kamera DSLR. Sistemnya sudah sangat digandrungi oleh fotografer professional maupun hobyyist. Penyebab Canon DSLR begitu populer karena harganya yang sangat terjangkau oleh banyak kalangan, sekaligus kelengkapan lensa, aksesoris, juga pelayanan yang diberikan.

Lensa Canon

Lensa Canon EF (Electro Focus), dirilis pertama kali pada tahun 1987, bersamaan dengan lahirnya sistem EOS Canon. Lensa EF memiliki motor auto fokus, sehingga tidak tergantung dari mekanik dari kamera. Kamera mengirimkan sinyal pada lensa melalui kontak elektronik yang terdapat pada lensa dan kamera.  Lensa EF sendiri cocok untuk kamera bersensor besar atau full frame dan bisa juga dipakai untuk kamera bersensor lebih kecil (APS-H, APS-C). Pada tahun 2003, Canon memperkenalkan lensa ED-S (Electronic Focus Short). Lensa ini digunakan khusus untuk kamera bersensor APS-C. Lensa EF-S berukuran lebih kecil dengan harga lebih murah dibanding lensa EF, sayangnya lensa EF-S tidak bisa digunakan untuk kamera bersensor full frame.

Teknologi Lensa EF (Electro Focus) dan EF-S (Electro Focus – Short)

1. Ultrasonic Motor (USM)

Lensa yang memiliki teknologi USM biasanya memiliki kinerja autofocus lebih cepat, akurat, dan tidak bersuara. Ada dua tipe USM,  yakni ring type dan micromotor. Lensa dengan ring tyoe memiliki kemampuan manual fokus override, yaitu bisa digunakan untuk manual fokus kapan saja diinginkan dengan cara memutar cincin auto fokus. Sedangkan lensa tanpa ring type, harus switch pada manual fokus terlebih dahulu.

2. Image Stabilization

Teknologi Image Stabilization (IS) biasanya terdapat pada sebagian lensa EF dan EF-S. IS ni dapat membantu meredam efek getaran dengan mengompensasi gerakan lensa, jadi hasil foto tidak blur akibat getaran tangan kita. Teknologi ini sangat membantu ketika kita menggunakan shutter speed lambat, biasanya pada kondisi cahaya yang kurang baik. Fitur ini sangat berguna bagi lensa telephoto karena lensa telephoto sangat sensitive terhadap getaran. IS hanya bisa meredam getaran tangan fotografer, bukan subjek yang bergerak cepat seperti satwa liar, olahragawan, ataupun kendaraan bermotor. Sehingga IS tidak perlu diaktifkan ketika kamera tengah dipasang pada tripod.

3. Hydrid Is

Teknologi ini dikembangkan Canon pada tahun 2009. Teknologi ini dapat meredam getaran bersifat linear (naik turun) dan rotasional (putar). Sangat efektif digunakan bagi lensa makro.

4. DO (Diffractive Optics)

Lensa dengan elemen DO (Diffractive Optics) lebih ringan dan kecil dibanding lensa biasa. Ciri dari lensa DO adalah adanya cincin berwarna hijau. Elemen ini membuat harga menjadi lebih mahal dibanding lensa sejenis. Elemen ini sendiri langsung dikembangkan oleh Canon. Contoh lensa dengan elemen DO antara lain: Canon EF 70-300mm f/4.5 – 5.6 DO IS dan Canon EF 400mm f/4 DO IS USM.

5. L (Luxury)

Lensa yang diberi lebel ‘L’ bukanlah sebuah teknologi, namun label ini berfungsi untuk membedakan antara lensa dengan kualitas standar dengan lensa berkualitas tinggi. Lensa dengan lebel L biasanya memiliki kualitas sangat baik, pastinya memiliki teknologi USM, dan dapat digunakan untuk kamera bersensor full frame atau kamera bersensor lebih kecil. Sebenarnya kebanyakan lensa L lebih cocok dipakai untuk kamera bersensor full frame.

Perbedaan Lensa Bagus dan Tidak Bagus

Siapa yang tidak ingin memiliki lensa bagus apalagi sempurna? Sayangnya perancang lensa memang tidak berusaha untuk membuat lensa berkualitas tinggi alias sempurna sebab akan berimbas pada harga yang sangat mahal dan ukuran lensa yang akan menjadi besar dan berat. Jadi, setiap lensa memang memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing.

Berikut perbedaan lensa bagus dan tidak bagus.

Lensa Bagus Lensa tidak Bagus
Terang gelapnya merata. Sudut foto terlihat lebih gelap.
Tidak memiliki CA (Choromatic Abberation). Memiliki CA, pada transisi gelap dan terang.
Distorsi minimal. Distorsi terlihat jelas.
Tajam dan jelas. Agak blur saat dibesarkan dan tidak tajam.
Kontras tinggi. Kontras rendah.
Flare tidak muncul. Munculnya flare terutama saat menghadap cahaya.
Warna akurat. Warna berubah.
Bagian yang tidak fokus mulus. Bagian yang tidak fokus terlihat kasar.
Operasi fokus dan zoom mulus. Zoom berubah saat menghadap ke bawah.
Ada proteksi dari air dan debu. Tidak ada proteksi dari air dan debu.
Auto fokus tidak berisik, mulus, dan akurat. Auto fokus berisik, lambat, dan tidak akurat.
Auto fokus bisa dipindahkan. Harus mengganti ke mode manual fokus.
Terdapat peredam getar. Tidak ada peredam getar.
Punya bukaan besar dan konstan. Punya bukaan kecil dan tidak konstan.
Mampu fokus jarak dekat. Tidak bisa fokus jarak dekat.
Memiliki zoom yang fleksibel. Tidak bisa melakukan zoom.
Tidak memanjang saat fokus. Memanjang saat fokus.
Ringan dan kecil. Berat dan besar.
Harga relatif murah. Harga mahal.

Baca artikel yang lain mengenai Teknik Fotografi Malam Hari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × three =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.